Selasa, 04 Agustus 2026

Review Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Maybe life is worth living again

 


Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Gramedia Widiasarana
Tebal: 217 halaman
Tahun Terbit: 2025

Rate: 4/5!
App: iPusnas

Blurb: Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Orang-orang di kantor yang sudah menikah, mereka akan pulang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk sndirian di parkiran mobil yang sudah lengang, bersama sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue ulang tahunku sendiri yang kubeli dari toko manisan dekat kantor.

Aku takut kalau ternyata selama ini aku tidak pernah berhasil menjalani hidup seperti sebagaimana seharusnya. Di kepalaku sekarang, pertanyaan ini semakin lama semakin membesar. "Pantaskah hidup ini kulanjutkan?"

Aku berdiri menatap ke langit malam.
Kini tekadku sudah bulat.
Aku akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.

Review: ⚠17+ (akan ada cukup banyak bahasa & adegan kasar + triggering di dalamnya. jadi,  please be aware. baca buku ini pas emosi kalian lagi stabil aja, ya!) 

Satu kata buat buku ini; Gelap. Sejujurnya, first impression aku pas liat cover dari bukunya aja tuh, udah ngerasa "janggal." Dan selama aku baca beberapa ulasan dari temen-temen bookstagram, ternyata hal itu bener. Jadi, karena udah terlalu penasaran sama isi lengkap ceritanya, aku mutusin buat baca bukunya di iPusnas.

Alur ceritnya campuran tapi dominan maju, dan pengembangan karakternya juga cukup signifikan. Hal ini bisa dilihat dari setiap loncatan kisah yang udah Ale alami. Beberapa kali aku nangis sesenggukan karena ada pemikiran Ale yang masih sering aku alami juga sampe saat ini. Ada begitu banyak adegan yang terlihat sepele tapi justru sanggup menghangatkan hati. Ada begitu banyak pesan moral yang bisa kita dapati. Walaupun beberapa kali ke-triger sama adegan di dalamnya, aku tetep bisa ngelanjutin baca sampe akhir karena berkat masing-masing kisah dari semua orang yang ada di dalamnya itu, aku jadi ngerasa gak sendirian hehe

Butuh dua hari buat aku nuntasin buku ini, karena ada beberapa bagian yang perlu aku baca ulang beberapa kali untuk bisa memahaminya. Salah satunya kehidupan Ale waktu di dalam penjara, di perkampungan kumuh dekat kereta pas bareng Murad dan waktu dia dateng ke kelap malam. Disitu aku perlu waktu ekstra untuk memahami kalimat, situasi, dan lokasi yang digambarkan. Karena jujur aja, masih ada banyak tempat dan  istilah baru yang belum pernah aku tau sebelumnya. But dari situ juga lah aku mulai mempelajari hal-hal baru lagi.

Ada beberapa quote favoritku dari buku ini, diantaranya:
  • Aku ingin mati, tapi ingin mie ayam juga.
  • Maybe life is worth living again.
  • Terkadang, orang gila memang harus melakukan hal-hal gila.
  • Demi menyelamatkan kita dari jalan yang salah, terkadang Tuhan akan mematahkan kita sepatah-patahnya.
  • Di kota ini, mayat saja masih bisa menerima caci maki dari manusia yang masih hidup. Sudah tidak bernyawa saja masih tetap dicemooh.
  • Meminta orang depresi untuk melihat hikmah itu sama seperti menyuruh orang buta untuk melihat matahari.
  • Lucunya, justru di tempat paling tidak manusiawi ini, untuk pertama kalinya aku merasa dimanusiakan.
  • Aku hanya pemeran pembantu, bahkan dicerita kehidupanku sendiri.
  • "Kita terlalu ringkih untuk bisa mengerti bagaimana cara takdir Tuhan bekerja."-Pak Uju
  • "Kalo belum bisa ngidupin diri sendiri, jangan matiin masa depan perempuan."-Mami Louisse
  • "Di dunia ini, yang mabuk itu tidak selalu berarti dia orang jahat, dan yang berdoa itu belum tentu dia orang baik"-Juleha, hlm. 104
  • "Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, dihadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa."-Mami Louisse, hlm. 108
  • Sekali-sekali, kita perlu menikmati apa yang sedang terjadi dan terus percaya bahwa pada akhirnya semua akan membaik.

Diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama, "aku", Kak Brian berhasil bikin pembacanya turut luruh merasakan apa yang lagi dirasain dan dipikirin Ale. Lelaki 37 tahun yang selalu menyecap pahitnya hidup. Mulai dari penghinaan, pengabaian hingga penghakiman dari orang-orang terdekatnya, bahkan orang tuanya--terutama ibunya sendiri pun milih buat gak peduli. Dan ternyata, dari dalam rumahnya lah semua trauma Ale bermula.

Menjadi karyawan tetap selama 10 tahun di kantor tempatnya bekerja juga tidak serta merta membuat Ale memiliki teman. Dengan berat badan 137kg, kulit gelap, mudah keringetan, dan bau badan yang menyengat membuat dirinya lebih sering terkucilkan dan tidak dianggap oleh rekan kerjanya. Namun, hal itu ternyata sudah terlalu sering dia alami sejak kecil, sehingga Ale tumbuh menjadi sosok yang selalu menyimpan emosi, mudah minder, tidak berharga, selalu merasa gagal, hingga puncaknya ketika dirinya mengidap depresi.

Karena sudah merasa terlalu lelah buat bertahan, Ale pun mumutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dengan menghitung 24 jam kedepan, Ale berencana akan bun*h diri di apartemen miliknya dengan menelan semua obat anti depresan terakhir yang ia punya. Awalnya, semua rencana yang ia susun untuk mengakhiri hidup terlihat sangat sempurna, hingga pemikiran untuk melakukan hal-hal sederhana yang belum pernah dirinya lakukan sebelumnya terlintas di benaknya, salah satunya adalah menyantap mie ayam favoritnya di dekat kantor tempat ia bekerja. Tapi naas, di beberapa jam terakhir sebelum rencananya terlaksana, Ale mendapati warung mie ayam itu tutup, penjualnya meninggal dunia. Dan dari sini lah titik balik kehidupan Ale dimulai.

Jujur aja, selama baca kisahnya, aku ngerasa ikut masuk ke dalam buku dan ngeliat langsung apa yang lagi dialami sama Ale. Mulai dari bertemu dengan anak si penjual mie ayam, sampai ketemu Murad si bandar narkoba di penjara, Mami Louisse dan Juleha yang kerja di sebuah diskotik, diselamatkan Ipul si OB di kantor tempatnya kerja, ketemu ibu Murni sosok ibu yang selama ini ia harapkan dari ibu kandungnya, bertemu kembali sama pak Uju si pemilik warung layangan yang tanpa sengaja pernah ia selamatkan, hingga pak Jipren si pengemis tunanetra yang tidak sengaja ia temui di jembatan saat perjalanan pulang. Kesemuanya dikemas dengan rapi, sederhana, nyata sekaligus gelap secara bersamaan.

Setelah perjalanan selama kurang lebih tiga mingguan dan bertemu dengan berbagai manusia dengan segala kisah hidupnya masing-masing itu lah, Ale mulai mendapatkan semangat hidupnya kembali. Dari seporsi mie ayam, Ia mulai menyadari bahwa ternyata selama ini ada begitu banyak hal yang luput dari pandangannya. Dalam perjalanan panjang dan cukup tidak masuk akal itu, Ale mulai menyadari tentang artinya kehidupan. Tentang penerimaan dan bertahan. Penerimaan tentang baik dan buruknya kehidupan. Menerima yang bukan berarti memilih menyerah. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk sekali lagi ingin kembali merasa hidup. 

Menurutku pribadi, sebetulnya masih ada beberapa hal yang bisa dikembangin, karena rasanya kek ngambang aja gitu. Contohnya, gimana kelanjutan adiknya Murad yang pengin kerja sekantor sama Ale itu? Terus, kenapa Murad mutusin buat gak nyari Ale lagi? (aku udah ada firasat Ale bakal pergi karena Juleha dan Mami Louisse beberapa kali notice soal kalo ada kesempatan, Ale harus kabur. jadi gak terlalu kaget waktu dia ngikut ipul) Dan endingnya itu, sebetulnya aku masih bingung jujurly. Di akhir cerita itu, jadinya Ale resign kerja atau ambil cuti sehari lagi untuk napak tilas yang terakhir kali? Aku masih bingung..

BUT Overall, seluruh ceritanya worth it banget buat dibaca dan diikuti. Kalian harus baca buku ini juga karena bener-bener se-deep itu tapi perlu diingat juga, buku ini juga bisa jadi trigger buat kalian yang lagi gak baik-baik aja, jadi jangan memaksakan diri buat baca, ya. Emm, sebenernya masih ada banyak hal yang masih ingin aku sampaikan sebetulnya, tapi aku gak cukup sanggup untuk nulis semuanya disini. Rasanya kayak, seisi bukunya itu "daging" semua.

Selalu ada pesan dan pembelajaran yang bisa kita petik di dalamnya, karena kisahnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Waktu menyantap bacaannya, aku juga merasa sedikit kuwalahan menghadapi berbagai pikiran gelap dan rumit yang selalu Ale rasain. Meskipun gitu, aku jadi ikut belajar dan tersadar kalo ternyata, di luar sana itu masih ada banyakkk banget kehidupan yang sama beratnya kayak yang lagi kita jalani saat ini, atau bahkan mungkin lebih berat dari problem yang lagi kita pikul sekarang ini.

Last but not least, please hidup lebih lama lagi, ya? Tolong jangan menyerah dulu, karena masih akan ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan di masa mendatang, salah satunya makan mie ayam! Jadi, stay alive ya, semua!! ;D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Judul: Malioboro at Midnight Penulis: Skysphire Penerbit: Bukune Jumlah Halaman: 436 Tahun Terbit: 2023 Rate: 3.5/5! App: iPusnas BLURB:  ...