Rabu, 12 Agustus 2026

[REVIEW NOVEL] Wizard Bakery karya Gu Byeong-Mu

Judul: Wizard Bakery
Penulis: Gu Byeong-Mo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 208
Tahun Terbit: 2021

 

Rate: 4/5!

App: iPusnas


BLURB: Karena ayahnya menikah lagi setelah ibunya meninggal dunia, seorang anak laki-laki berumur 16 tahun terpaksa tinggal serumah dengan ibu tiri dan adik tirinya. Hubungannya dengan ibu tirinya tidak pernah baik, jadi ketika ia mendadak dituduh melakukan pelecehan terhadap adik tirinya, ia pun kabur. Di tengah kepanikannya, ia berlari ke toko roti yang ada di dekat rumahnya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dunia penuh keajaiban menunggunya di sana. Sekilas pandang, Widzard Bakery terlihat seperti toko roti biasa, tetapi sebenarnya tempat ini menjual roti dan kue yang mengandung sihir. Sementara anak laki-laki itu berada di sana, ia menyaksikan sikap egois orang-orang yang ingin memiliki kekuatan sihir demi kepentingan pribadi. Walaupun Tukang Roti dan asistennya, Burung Biru, sering mengomeli anak laki-laki itu, mereka juga memberinya hiburan, berbeda dengan keluarganya sendiri. Namun, ketika polisi mulai menyelidiki toko roti itu, anak laki-laki itu pun sadar bahwa waktunya kembali ke kenyataan semakin dekat.

REVIEW: First of all, buku ini jauh sekali dengan covernya yang begitu manis. Awalnya, aku kira buku dengan halaman yang cukup sedikit ini akan menyuguhkan cerita fantasi yang imut, manis, dan penuh imajinasi. Tapi dugaanku salah besar! Karena isinya bener-bener dark. Ada begitu banyak adegan yang trigerring. Mulai dari child abuse, pelecehan seksual, family problem, trauma, bahkan suicide ada semua di sini. Jadi, tolong siapkan mental kalian dengan baik waktu mau baca buku ini.

Hal utama yang terpikirkan waktu baca buku ini, aku jadi keinget karyanya kak Ziggy. Kalo kalian pernah baca bukunya, pasti kalian akan paham. Yap, tentang anak-anak yang tumbuh sedikit "tidak lazim" dari kebanyakan anak kecil lainnya, tapi berhasil dikemas dengan apik dengan hal-hal imajinatif--dalam hal ini, bakery. Meskipun topik yang diangkat cukup berat, tapi roti-roti yang dibuat oleh si Tukang Roti dengan mantra ajaibnya, keramahan asistennya--si Burung Biru, serta suasana toko roti yang digambarkan dengan detail membuat ceritanya terasa lebih hangat sekaligus manis.

Wizard Bakery menceritakan seorang anak laki-laki gagap berumur 16 tahun yang hidup dalam keluarga yang cukup "problematik." Sejak kecil, ia sudah melihat banyak kejadian buruk di dalam keluarganya, yang seharusnya tidak pantas untuk dicerna dan dipertontonkan pada anak seusianya. Salah satunya yakni aksi bunuh diri yang dilakukan oleh ibu kandungnya. Bahkan, dirinya juga pernah "dibuang" oleh ibunya sendiri. Setelah ibunya meninggal, ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda berprofesi guru dan memiliki satu anak perempuan, dan wanita itu adalah pilihan neneknya.

Seolah belum cukup trauma yang ditimbulkan oleh orang tuanya, ibu tirinya pun ikut menyumbang lebih besar rasa trauma itu. Setelah ayahnya memiliki istri baru, kehidupan si anak laki-laki di rumahnya sendiri semakin terhimpit. Rasanya ibu tirinya selalu saja mencari-cari kesalahan pada dirinya. Meskipun ia paham, rasa benci yang dilakukan oleh ibu tirinya itu adalah bentuk pelampiasan atas sikap dan tindakan yang dilakukan oleh ayahnya kepada Guru Bae, ibu tirinya.

Pengabaian orang tua hingga KDRT yang sering terjadi di rumahnya membuatnya kehilangan jati diri. Sampai pada puncaknya, ketika ia dituduh menjadi pelaku atas pelecehan seksual yang dialami oleh adik tirinya. Pristiwa menyakitkan itulah yang membuat si anak laki-laki itu mengambil keputusan besar, yakni pergi meninggalkan rumah untuk menghindari kenyataan pahit yang terjadi padanya. Dengan tidak membawa barang apapun, ia berlari sekuat tenaga dari amukan ibu tirinya.

Hingga kakinya membawanya pada sebuah toko roti ajaib yang ada di dekat rumahnya. Awalnya ia tidak mempercayai hal-hal seperti itu, hingga ketika dirinya ditampung dan hidup di dalam oven yang ada di toko tersebut, barulah ia menyadari bahwa toko itu adalah toko ajaib. Ada berbagai macam roti yang dibuat dengan sihir dan mantra ajaib oleh si Tukang Roti, sehingga tiap roti yang sudah dipanggang memiliki kelebihan tiada tanding, yang tidak dimiliki oleh bakery lain. Namun, produk roti yang dijual tidak lantas membuat hidup si pembeli berubah menjadi kaya ataupun bahagia selamanya, karena setiap roti yang dijual memiliki konsekuensinya masing-masing. Dan itu harus dipertanggung jawabkan oleh konsumennya sendiri.

Selama tinggal dan bersembunyi di dalam toko roti itu, si anak laki-laki merasakan berbagai macam perasaan yang belum pernah ia rasakan di rumahnya sendiri. Ada banyak kejadian yang membuatnya merasa diterima. Dan ada begitu banyak pelajaran serta pemahaman baru, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya, dan itu membuatnya memiliki keberanian untuk menghadapi trauma dan rasa sakit.

Menggunakan alur campuran dan POV dari orang pertama--si Anak Laki-Laki, Wizard Bakery berhasil membuat pembacanya larut dalam dunia fantasi yang dibuat penulis. Btw, semua tokoh di buku ini kebanyakan gak dikasih nama yah, tapi ceritanya tetap bisa mengalir dengan baik, kok. But, jujurly aja waktu baca bab awal, aku memang sedikit kebingungan dengan hal-hal yang sedang dibahas karena pemikiran si tokoh utama itu kayak bukan pemikiran anak-anak pada umumnya, lebih dewasa dan complicated gitu. Dan sayangnya, hal ini bikin aku ngerasa bored dan stuck di beberapa halaman. Karena menurut aku, ada pembahasan yang kurang penting, tapi tetap diceritain dengan sangat detail dan berbelit-belit. Jadi capek aja gitu bacanya :')

Tapi jangan khawatir, gak melulu membahas topik berat, penulis juga menyisipkan beberapa humor dan candaan di dalamny, kok. Ya walaupun agak 'sarkastik' dan dark juga, sih.. tapi tetap nyaman untuk dinikmati.

Ada banyak pesan dan hal baik yang bisa kita petik waktu menyantap buku ini. Seperti pencarian jati diri, penyembuhan trauma, pengambilan keputusan dan tanggung jawab, hingga pentingnya peran orang tua dalam sebuah keluarga. Jujur, aku kagum dan salut banget sama si anak laki-laki karena sampai akhir pun, dia gak pernah menyalahkan adik tirinya karena udah nunjuk dia sebagai pelaku atas tindak kejahatan yang sama sekali bukan kesalahannya, tapi kelakuan bejat dari ayahnya sendiri :(

Lewat buku ini, aku kembali disadarkan bahwa rasa sakit dan trauma yang kita terima itu bisa datang dari siapa saja dan bisa dari orang yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, bahkan orang terdekat kita sekalipun. Dan, luka paling besar yang dialami oleh anak-anak itu bisa berasal dari dalam rumahnya sendiri.

Overall, aku puas dengan keseluruhan ceritanya, terutama dua bab terakhirnya. Karena penulis membuat dua kemungkinan, yakni kemungkinan terburuk tapi gak sepenuhnya buruk alias paling realistis, dan satu lagi kemungkinan paling super duper membahagiakan--setidaknya untuk kehidupan si anak laki-laki yang bisa kembali bertemu dengan toko roti itu. What a perfect ending kalo kata aku mah. So, kalian jangan lupa baca bukunya juga, ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Judul: Malioboro at Midnight Penulis: Skysphire Penerbit: Bukune Jumlah Halaman: 436 Tahun Terbit: 2023 Rate: 3.5/5! App: iPusnas BLURB:  ...